NPM

KELAS : 4KA07
NPM : 10113329
Tampilkan postingan dengan label RESENSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RESENSI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2016

Resensi Novel Kahve

Tugas Kelompok : 
  1. Agnes Sekar Mahardhika (10113329)
  2. Dita Logiarti (12113607)





Judul                           : Kahve
Penulis                         : Yuu Sasih
Penerbit                       : dee Teens
Tahun Terbit                : 2015
Jumlah halaman           : 240 halaman


“ Kamu sudah tahu.. tapi menolak untuk tahu. Beberapa kamu memang tidak tahu, tapi kamu memutuskan untuk tidak mencari tahu.. Tidak semua hal harus muncul di depanmu sebagai jawaban utuh, Kencana. Kadang kamu harus mencari.”


Misterius dan membingungkan, dua kata yang layak untuk menggambarkan Kahve. Plotnya yang disusun secara maju-mundur dari tahun 2013 ke tahun 2005, kemudian tahun 2006, lalu balik lagi ke tahun 2013, dan seterusnya, membuat saya sebagai pembaca menjadi penasaran. Terlebih penulis menyajikan suasana yang abu-abu dan menebar teka-teki di hampir semua bagian novel.  Seperti ketika Linda muncul di tahun 2013, padahal di tahun 2006 ia menghilang. Novel ini sedikit sekali memberikan gambaran secara garis besar ide ceritanya, pembaca diajak untuk bersabar perlahan membuka lapisan-lapisan misteri yang sudah dirancang oleh penulisnya. Dari awal, pembaca sudah ditantang untuk menalarkan sendiri rangkaian kisah yang dituturkan oleh penulis. Bagian paruh pertama pasti pembaca meraba-raba plot dan ide cerita dalam novel ini. Tak jarang beberapa kali salah menebak. Salah satu kelebihan dari penulisnya adalah mampu menggiring persepsi pembaca (ke arah yang salah) dan ketika rahasia besarnya diungkap. Nilai plus dari buku ini selain ceritanya yang unik dan susah ditebak adalah penuturannya yang enak dibaca.
Sayang karakterisasi dalam novel ini masih kurang. Bahkan untuk Kencana sebagai karakter utama kurang digali. Alurnya juga sedikit membingungkan, apalagi jika baru pertama kali membaca. Penulis tidak bercerita banyak tentang kondisi yang dialami oleh Kencana. Pada bagian akhir novel, kita pasti memikirkan ada hal yang janggal seperti keberadaan tokoh yang bernama Farras yang hilang tiba-tiba.

Novel ini dibuat oleh seorang mahasiswi psikologi yang memutuskan masuk ke jurusan itu karena ingin bisa membuat tokoh cerita berkepribadian keren. Nyatanya, belajar pikologi membutnya berkenalan dengan banyak isu sosial yang selama ini kurang mendapatkan perhatian, seperti gender dan seksualitas. Berbekal semua pelajaran yang pernah ia dapatkan, perempuan kelahiran Malang ini akhirnya memasukkan isu-isu sosial  tersebut ke dalam setiap karyanya.

Sabtu, 12 Maret 2016

Resensi Novel



Judul                           : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Pengarang                   : Tere Liye

Penerbit                       : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                           : November 2011

Jumlah halaman           : 256 halaman

Warna sampul             : Hijau-coklat-Putih

Jumlah cetakan            : 264

Kota terbit                   : Jl. Palmerah barat 29-37 Blok. 1 Jakarta

ISBN                           : 978-979-22-5780-9


      Sipnosis
Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.
Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.
Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.
Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggut-kan dari tangkai pohonnya.


1.      Unsur intriksik

a)      Tema     : Perasaan yang dirahasiakan

b)      Gaya Bahasa:
  1. Hiperbola        : 

  • Meruntuhkan semua harapan. Membuatku tergugu, berfikir tentang hari esokku yang tiba-tiba sama sekali tidak menyisakan puing lagi. Puing-puing yang mungkin bisa dibangun kembali (Hal 130)
  • Demi membaca e-mail berdarah-darah itu, esoknya aku memutuskan pulang segera ke Jakarta (Hal. 230)
  1. Metafora         :

  • Bagian tajamnya menghadap ke atas begitu saja, dan tanpa ampun menghunjam kakiku yang sehelai pun tak beralas saat melewatinya. (Hal. 22)
  1. Personifikasi    :

  • Menuju tempat rumah kardus kami dulu berdiri kokoh dihajar hujan deras, ditimpa terik matahari. (Hal. 231)
  • Hujan deras turun membungkus kota ini (Hal. 13)
  1. Alegori            :

  • Waktu benar-benar berlalu melesat bagai desingan peluru (109)

c)      Sudut Pandang : Orang pertama pelaku utama

d)     Tokoh                    :
1.      Tania               :

  • Pantang menyerah (Menjalani kehidupan dari tidak punya apa-apa sampai sukses)
  • Tekun (Tekun belajar hingga mendapat beasiswa di Singapura)
  • Ramah (Disukai banyak orang)
  • Setia( Tetap mencintai danar walau banyak laki-laki yang mencintainya)
  • Tidak pernah mengingkari janji

2.      Dede               :

  • Iseng (Sering membuat  Tania kesal)
  • Berpikir dewasa (Selalu mengemukakan pendapat yang bijak)
  • Innocent

3.      Ibu                   :

  • Sabar (  Tetap sabar menjalani kehidupan walau badannya tidak kuat menanggung itu semua)
  • Berusaha (Berjualan kue untuk memenuhi kebutuhan hidup)

4.      Danar              :

  • Ringan tangan (Menolong tania ketika kakinya tertusuk paku)
  • Bertanggung jawab  (Membiayai dan mengurus Tania dan Dede setelah ibunya meninggal)
  • Suka kepada anak-anak (Membuka kelas mendongeng dirumahnya)
  • Ramah ( Disukai banyak orang)
  • Dewasa ( Dilihat dari cara berbicara, dan berpikiran)

5.      Kak Ratna       :

  • Ramah ( Ketika bertemu dengan Tania dan keluarga untuk pertama kali)
  • Sabar ( Menghadapi Danar setelah pernikhan)
  • Tidak berprasangka buruk

6.      Anne               :

  • Dewasa( Dari cara memberi nasehat dan berfikir)
  • Teman yang baik (Selalu ada untuk Tania ketika membutuhkan teman dan saran)

e)      Alur           : Maju Mundur

f)       Latar         
Tempat      : Rumah Tania, Di Dalam Bis, Toko Buku, Kontrakan Danar, Asrama
  Tania di Singapura
      Waktu       : Pagi, Siang, Sore, dan Mala  m
      Suasana     : Senang, Duka, Bahagia, Rindu, dan Sedih.

g)      Amanat     :

  • Jangan pernah berhenti berusaha, karna usaha yang kita lakukan menentukan hasil yang akan kita dapatkan.
  • Jujur dengan perasaan sendiri dan dengan cepat mengambil keputusan yang benar sesuai dengan kata hati sebelum terlambat dan akhirnya menyesal karna waktu tidak pernah bisa kita ulang.


2.      Unsur Ekstrinsik


  1. Nilai Sosial      : Selalu menolong orang yang kesultan tidak peduli siapa yang akan kita tolong, seperti tokoh Danar di novel tersebut.
  2. Nilai Moral      : Memberi pengetahuan kepada kita bahwa sesuatu yang terlihat sulit nyatanya tidak sesulit yang kita lihat jika kita ingin bersungguh sungguh mencapainya seperti dalam novel tokoh Tania yang pantang menyerah menjalani hidupnya walau banyak rintangan yang menghalanginya. Memegang janji ‘Aku menyeka sudut mataku yang berair. Tidak. Aku sudah berjanji kepada Ibu untuk tidak pernah menangis. Apalagi menangis hanya karena mengingat semua kenangan buruk itu.’ (Hal. 31)



Sumber            : http://wira12adriana.blogspot.co.id/